Bukan Da’wah Politik tetapi Da’wah Mengajak ke jalan Allah

 

 

Dewan Dakwah bukan ormas, dan juga bukan partai politik. Tetapi Dewan Dakwah tidak membiarkan dirinya dan keluarga besarnya buta politik. Karena politik pada hakekatnya adalah seni mengatur masyarakat. Barang siapa tidak dalam posisi mengatur maka dengan sendirinya ia berada dalam posisi diatur. Yang mengatur adalah pemerintah dan semua lembaga kenegaraan yang tersebut dalam Undang-undang Dasar, sedang yang lainnya, termasuk Dewan Dakwah, berada dalam posisi diatur.

Masing-masing pihak, baik yang menga­tur maupun yang diatur, mempunyai hak dan kewajiban. Semuanya tunduk aturan dasar bersama yang disepakati bersama yakni Undang-undang Dasar.

Di satu segi, pihak yang mengatur berhak dita’ati semua peraturan yang dibuat selama tidak menyimpang dari Undang-undang Dasar.

Disegi lain pihak yang mengatur juga berkewajiban melindungi yang diatur, selama ia tidak menyalahi aturan dasar, yakni Undang-undang Dasar.

Pihak yang diatur berkewajiban men­ta’ati aturan aturan pihak yang mengatur, selama aturan-aturan itu tidak bertentangan dengan Undang-undang Dasar.

Pihak yang diaturpun berhak mengingatkan pihak yang mengatur dengan kontrol-kontrol sosial ataupun cara-cara lain yang tidak bertentangan dengan Undang-undang Dasar[1]

Dalam kondisi inilah tetap akan teringat taushiyah Bapak DR. Mohamad Natsir bahwa dikala kita berada dimimbar politik kita tetap berdakwah, dan di mimbar dakwah kita tidak kan meninggalkan politik, karena dakwah kita adalah dakwah ilallah.

Bila kita pedomani pesan Rasulullah dalam Khutbah Wada’ bahwa “sesungguhnya masa berubah, zaman berganti maka haruslah diyakini bahwa perubahan masa dan pergantian zaman merupakan suatu Sunna­tullah yang akan tetap berlaku dan sebagai ummat dakwah kita meyakini bahwa didalam setiap perobahan tersimpan cobaan dan ujian.

Yang satu tak dapat dipisahkan dari yang lain yakni kesusahan dan kesenangan. Dua-duanya berjalan, bersamaan atau berganti-ganti. Itulah arti hidup, kadang-kadang kita diuji dengan rasa kesenan­gan, adakalanya kita diuji dengan rasa putus asa. Kedua-duanya adalah ujian, apakah kita dapat mengatasi kedua perasaan itu atau tidak.

Maka marilah melihat tiap-tiap persoalan yang kita hadapi dari masa ke masa, sekarang atau yang akan datang, sebagai ujian, sebagai ibtilaa’  yang silih berganti. Dan tidak usah kita men­yembunyikan diri dari padanya, tetapi kita harus hadapi dengan iman, dengan warisan Rasulullah SAW, Kitabullah wa Sunnatu Na­biyyihi.[2]

Akhirnya kita dapat melihat dan merasakan bahwa besarnya Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia selama lebih dari tiga dasawarsa perjalanannya (1967-2000) hanyalah karena kesinambungan amal yang terus menerus didalam rakitan mengharap redha Allah. Kekuatan lain yang tidak kalah menentukan ialah, selalu berusaha berurat di hati ummat.

Inilah sebuah amanah yang menjadikan pikulan generasi dakwah turun temurun “Patah Tumbuh Hilang Berganti”,

Insya Allah.

 

Sebagai organisasi dakwah, maka kepada setiap unsure yang berperan dalam Dewan Dakwah selalu diajarkan supaya memang­gil semua orang ke jalan Allah, dengan cara-cara yang diperingat­kan supaya memanggil itu dengan hikmah (bijaksana).

Bil hikmah dalam satu masyarakat yang terdiri dari pemeluk-pemeluk berbagai agama, terasa sekali sangat mutlak diperlukannya.[3]

Sebagai telah diyakini bahwa Dakwah Islam adalah perombakan total sikap ummat manusia di dalam menanggapi dan menjalani kehidupan duniawi untuk persiapan kehidupan yang lebih panjang tanpa batas di akhirat. Maka sebenarnya sasaran Dakwah Islam adalah manusia yang tengah hidup di dunia ini, atau dengan perkataan lain Dakwah tidak akan pernah berhenti tetap akan merupakan kewajiban (fardhu ‘ain) bagi setiap ummat Muslim dimana pun mereka berada.

Karena itu para pendiri Dewan Dakwah yang terdiri dari para ulama dan zu’ama’ yang bemusyawarah di Masjid Al Munawwarah Kampung Bali Tanah Abang Jakarta Pusat pada awal 1967 dengan sadar telah memilih bentuk Yayasan dan karenanya tidak mempunyai anggota.

Yayasan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia berdasarkan taqwa dan keredhaan Allah dan bertujuan menggiatkan mutu dakwah Islamiyah di Indonesia.

Dalam melakukan kegiatan-kegiatan, Dewan Dakwah menempatkan diri sebagai penerus kegiatan-kegiatan dakwah sebe­lumnya yang telah dimulai sejak Rasulullah SAW.

Menerima tugas risalah, artinya adalah memanggil ummat manusia kepada jalan Allah, dengan hikmah dan mau’izhatu hasanah.

Bapak DR. Mohamad Natsir menyebutkan dengan ungkapan sederhana tapi padat arti ialah “risalah mengawa­li dan dakwah melanjutkan”. Karena itu apabila terdapat pihak-pihak yang membantah, supaya dihadapi dengan dalil dan kaifiyah yang lebih baik.

Dewan Dakwah sadar benar walaupun tugas risalah Islamiyah yang dibawa Rasulullah SAW bertujuan menciptakan rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil ‘alamin). Namun sudah menjadi tabi’at pemba­waan, bahwa setiap risalah pasti menghadapi tantangan.

Dan untuk menghadapi tantangan itu, diperlukan jawaban-jawaban. Karena itu tugas dakwah senantiasa mengandung dua segi: bina’an wa difa’an, membina dan mempertahankan.

Pertama: membina mereka yang sudah muslim baik yang sejak lahirnya maupun yang baru masuk Islam berkat keberhasilan dakwah Islamiyah,

Kedua: membela Islam dan ummatnya dari mereka yang tidak senang melihat kemajuan ummat Islam bahkan yang melihat Islam sebagai rivalnya.


[1] Lihat DR Anwar Haryono, Media Dakwah, Dzulkaedah 1411H/ Juni 1991; Tawashi bilhaqqi Tawashi bissabri).

[2] , begitu pesan taushiyah Bapak DR. Mohamad Natsir Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DEWAN DAKWAH) pada silaturrahmi dan tasyakur 24 tahun Dewan Dakwah di Jakarta 1991.

[3] Lihat DR. Anwar Haryono, SH; Media Dakwah Dzulkaedah 1411/ Juni 1991; Mengingat 24 Tahun Dewan Dakwah.

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s